sainsdata.pens.ac.id – Peningkatan aktivitas wisata bahari di Tanjung Benoa, Kuta, Bali, menghadirkan tantangan signifikan terhadap kelestarian ekosistem pesisir, khususnya mangrove. Aktivitas perahu wisata, snorkeling, dan akses pantai yang padat dapat menimbulkan degradasi vegetasi mangrove, abrasi pantai, dan akumulasi sampah di sepanjang garis pesisir. Untuk menghadapi isu ini, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) bekerja sama dengan Musashino University melaksanakan Mangrove Sustainability Project , sebuah proyek pengabdian masyarakat internasional yang menekankan monitoring dampak wisata bahari dan pelaksanaan aksi konservasi berbasis penelitian ilmiah.

Pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan di Tanjung Benoa diawali dengan identifikasi lokasi kritis yang terpengaruh oleh aktivitas wisata. Tim melakukan pengambilan sampah di sepanjang jalur pesisir, memilahnya menjadi kategori organik dan non-organik. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi akumulasi sampah, tetapi juga memberikan data kuantitatif mengenai jenis dan sumber polusi yang masuk ke ekosistem mangrove. Analisis awal menunjukkan sebagian besar sampah berasal dari aktivitas wisata dan limbah domestik, sehingga mendukung pengembangan strategi mitigasi yang lebih tepat sasaran.

Selain pengumpulan sampah, tim melakukan pengambilan sampel air di beberapa titik strategis sepanjang pesisir untuk menilai kualitas lingkungan. Sensor air digunakan untuk mengukur parameter kritis seperti pH, oksigen terlarut, suhu, dan konduktivitas, yang berkaitan langsung dengan kesehatan mangrove dan fauna pesisir. Data ini dianalisis untuk memahami kondisi ekosistem dan potensi stres akibat aktivitas manusia, serta sebagai acuan untuk tindakan rehabilitasi atau perlindungan lebih lanjut.

Kegiatan lapangan juga mencakup interaksi dengan komunitas lokal dan pengelola wisata. Diskusi difokuskan pada dampak sosial-ekologis dari pariwisata terhadap mangrove, tantangan dalam pengelolaan sampah, dan praktik konservasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Partisipasi masyarakat dalam coastal clean-up dan edukasi lingkungan menjadi bagian penting dari pendekatan ini, memastikan bahwa konservasi ekosistem bukan hanya tanggung jawab tim akademik, tetapi juga diinternalisasi oleh masyarakat setempat.